Home / Headline / Tiga Pelaku Pembunuhan Saudagar Kopi Pagaralam Peragakan Adegan, Begini Skenarionya..

Tiga Pelaku Pembunuhan Saudagar Kopi Pagaralam Peragakan Adegan, Begini Skenarionya..

Palembang, Sumselupdate.com – Subdit III/Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumsel menggelar rekonstruksi perkara perampokan disertai pembunuhan terhadap Darul Kutni (48) saudagar kopi warga Desa Bandar, RT3/1, Kelurahan Kance Diwe, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam, Senin (20/11/2017).

Tiga tersangka yakni Gusti Komang Sujana (41), Eko Riyadi (39), dan Misgianto alias Belawong (31) dihadirkan dalam reka ulang kasus sebanyak 23 adegan ini. Adegan dimulai dengan tersangka Misgianto menelpon tersangka Eko untuk mengajak merampok di Pagaralam.

Pada 4 Agustus lalu, tersangka Eko yang merupakan warga Jalan Tebar Serai, Kelurahan Padang Kapok, Kecamatan Kota Manak, Kabupaten Mana, Provinsi Bengkulu berangkat menggunakan travel ke Pagaralam.

Setibanya di Pagaralam, tersangka Eko dijemput oleh tersangka Gunawi alias Wak Gun (DPO) dan Belawong menggunakan mobil untuk berkumpul di rumah tersangka Mirdan alias Wak Sikil.

Di sana sudah menunggu tiga tersangka lainnya yakni Komang, Wak Lan (DPO), dan Wak Sapar (DPO). Tujuh tersangka kemudian merencanakan aksi sadis nya.

Di adegan ke empat, pada pukul 21.00, tersangka Sapar membagikan empat pucuk senjata api rakitan kepada Komang, Lan dan Belawong. Sementara tersangka Eko dan Sikil dibekali golok.

Sekitar pukul 23.00, para tersangka bersiap pergi merampok mengendarai tiga sepeda motor. Sementara tersangka Gunawi mengendarai mobil Suzuki APV. Di adegan ke enam, pukul 1.30, para pelaku memakai topeng dan kemudian mendatangi rumah korban.

Para tersangka langsung mendobrak rumah korban menggunakan balok kayu sepanjang dua meter yang direka pada adegan 7a. Setelah pintu rumah terbuka, tersangka Komang, Lan, Belawong, Sapar dan Eko masuk ke dalam rumah. Sementara Gun dan Sikil berjaga di luar.

Baca Juga :  Danrem 044/Gapo Ingatkan Anggotanya Hindari Narkoba

Tersangka Komang dan Langsung menuju lantai dua masuk ke kamar anak korban, Ahmad Brilian (16). Tersangka menodong Ahmad sambil menanyakan kamar korban. Kemudian tersangka mengikat Ahmad.

Pada adegan ke delapan, korban mendatangi kamar korban dan langsung mendobrak pintu kamar. Korban dan istrinya Lismawati (40), terbangun karena dobrakan tersebut. Korban pun berupaya menahan tersangka masuk, sehingga terjadi dorong-dorongan antara korban dengan tersangka Belawong.

Tersangka Komang pun melepaskan dua kali tembakan ke arah korban dari celah pintu, sementara tersangka Lan menaiki kursi untuk menembak korban dari sela ventilasi kusen pintu.

Korban roboh dengan peluru yang bersarang di dua pahanya hingga bersimbah darah. Lismawati pun tak dapat berkutik saat ditodong dan diinjak tersangka Sapar, sementara Komang menggasak Rp500 juta dari bawah kasur korban.

Ditengah aksi tersebut, Lisnawati berteriak minta tolong dan memancing perhatian warga sekitar. Para pelaku pun kemudian melarikan diri namun warga sudah berkumpul di depan rumah korban.

Merasa terdesak, para pelaku melepaskan tembakan ke udara agar warga yang hendak mendekat menjadi ciut ketakutan. “Mundur kamu, kami ini rampok! Bukan polisi,” ujar tersangka Belawong dalam reka ulang adegan ke-11 kepada para warga.

Para tersangka pun melarikan diri ke rumah Sikil untuk membagikan hasil rampokan. Setiap orang mendapatkan bagian Rp40 juta kemudian langsung berpencar melarikan diri masing-masing.

Rekonstruksi yang digelar di Lapangan tembak Polda Sumsel ini pun dihadiri oleh kerabat dan keluarga korban. Umpatan demi umpatan dilontarkan kerabat korban karena geram kepada para tersangka.

Bahkan Lisnawati yang ikut serta dalam rekonstruksi, tak dapat menahan emosinya dan sempat memukul dan menendang ketiga tersangka.

Baca Juga :  BI Nilai 'Tax Amnesty' Dorong Penguatan Rupiah ke Rp 12.900

“Mati lah kau. Dasar iblis dajal!” Ujarnya seraya berurai air mata. Sementara anak sulung korban, Dinda (18), pun tak dapat menahan tangis melihat ibunya emosi terhadap para tersangka.

Saat kejadian, diketahui Dinda tidak berada di rumah karena berkuliah di Politeknik Sriwijaya, Palembang.

Usai Lisna menendang tersangka, Lisna pun ditenangkan Kanit IV Subdit III/Jatanras Kompol Zainuri yang memimpin jalannya rekonstruksi.

Lisna pun didekap oleh Dinda dan kerabatnya agar menenangkan diri. “Kita ini beragama, biarlah di akhirat nanti perbuatan mereka dibalas. Jadilah Mak, biarlah polisi saja yang menghukum nya,” ujar Dinda kepada ibunya.

Usai rekonstruksi, kakak korban Sahabudin (53) berbincang dengan tersangka Komang. “Dosa adik aku, seluruhnya kamu yang tanggung. Tuhan yang jadi saksi,” ujarnya. “Iya saya minta maaf sedalam-dalamnya,” timpal Komang yang duduk di kursi roda.

Kasubdit III/Jatanras Ditreskrimum Polda Sumsel AKBP Erlin Tangjaya mengatakan, dari rekonstruksi tersebut, terungkap bahwa benar para pelaku merencanakan aksinya secara matang sebelum melakukan aksinya.

“Mereka rampok spesialis dobrak pintu yang telah beraksi 21 kali di empat provinsi. Mereka sudah mengakui perbuatan mereka di seluruh TKP, termasuk yang di Lampung, Jambi, dan Bengkulu,” ujarnya.

Pihaknya melakukan rekonstruksi untuk melengkapi berkas yang akan segera dilimpahkan ke kejaksaan untuk segera memulai pengadilan bagi para tersangka.

“Kami masih punya PR. Untuk aksi yang di Pagaralam empat orang masih buron. Sementara untuk seluruh anggota komplotan nya yang lain, 14 orang yang buron. Masih kami kejar,” katanya. (tra)

Baca Juga

Rapat Raperda Pesta Rakyat Menjadi Perdebatan

Sekayu, Sumselupdate.com – Rapat Pesta Rakyat di Ruang Banmus DPRD Muba yang dimotori oleh Pansus …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *