Home / Headline / Sekjen PBB Sebut Perang di Suriah Picu Kembalinya Perang Dingin
Asap membumbung setelah serangan yang dilancarkan pasukan rezim Suriah di Karf Batna, Ghouta Timur.

Sekjen PBB Sebut Perang di Suriah Picu Kembalinya Perang Dingin

New York, Sumselupdate.com – Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB memperingatkan Dewan Keamanan bahwa ketegangan di Timur Tengah menimbulkan ancaman bagi perdamaian global.

Ia pun menyerukan kepada pihak-pihak yang terlibat untuk mencegah eskalasi militer yang menjulang di Suriah.

Antonio Guterres mengatakan banyak konflik di Timur Tengah telah menjerumuskan kawasan itu ke dalam kekacauan yang mengancam perdamaian dan keamanan. Ini termasuk tidak hanya yang regional, seperti pembagian Syiah-Sunni atau konflik Arab-Palestina, tetapi juga konfrontasi antara Rusia dan Barat.

“Perang Dingin kembali dengan pembalasan dendam, tetapi dengan perbedaan,” katanya pada pembukaan rapat Dewan Keamanan PBB.

“Mekanisme dan pengamanan untuk mengelola risiko eskalasi yang ada di masa lalu tampaknya tidak lagi hadir,” imbuhnya seperti dikutip Sindonews.com dari Russia Today, Sabtu (14/4/2018).

Menurut Guterres ada banyak poin kekerasan dan ketegangan di Timur Tengah. Namun situasi di Suriah menimbulkan ancaman paling serius bagi perdamaian dan keamanan internasional.

“Di Suriah, kami melihat konfrontasi dan perang proksi yang melibatkan beberapa tentara nasional, sejumlah kelompok oposisi bersenjata, banyak milisi nasional dan internasional, pejuang asing dari mana-mana di dunia, dan berbagai organisasi teroris,” tutur Guterres.

“Selama delapan tahun yang panjang, rakyat Suriah telah mengalami penderitaan di atas penderitaan,” imbuhnya.

Guterres menyesalkan kegagalan DK PBB minggu ini untuk mengeluarkan mandat untuk menyelidiki laporan penggunaan senjata kimia di Suriah. Ia pun menawarkan dukungannya untuk pemeriksaan terbatas oleh OPCW yang saat ini sedang berjalan di Douma.

Pria asal Portugal ini pun meminta anggota DK PBB untuk mengatasi perbedaan mereka dan mulai bertindak sesuai dengan posisinya.

Baca Juga :  Jelang Pemungutan Suara Gencatan Senjata di Suriah, Rusia Menjadi Sorotan Dunia

“Meningkatkan ketegangan dan ketidakmampuan untuk mencapai kompromi dalam pembentukan sebuah mekanisme akuntabilitas mengancam mengarahkan eskalasi pada militer penuh,” ia memperingatkan.

“Dalam kontak saya dengan Anda – terutama dengan Anggota Tetap Dewan Keamanan – saya telah mengulangi kekhawatiran saya yang mendalam tentang risiko kebuntuan saat ini dan menekankan perlunya untuk menghindari situasi yang terjadi di luar kendali,” cetusnya.

Amerika Serikat (AS) dan sekutunya sedang mempertimbangkan meluncurkan serangan rudal terhadap Suriah setelah serangan bahan kimia yang dicurigai, tindakan yang Rusia – yang pasukannya ada di sana mendukung pemerintah – mengatakan akan mengambil risiko memulai perang.

Rusia sendiri menuduh Inggris sebagai pihak yang memalsukan dugaan serangan kimia tersebut, sebuah tuduhan yang dianggap Inggris sebagai “kebohongan yang luar biasa”.

 

Kapal Perang Rusia Wira-wiri

Sementara itu, operator satelit Israel, iSi, merilis gambar aksi wira-wiri sejumlah kapal perang dan kapal selam Rusia di sekitar pangkalan Tartus, Suriah.

Kapal-kapal itu sibuk di saat rombongan kapal induk Amerika Serikat (AS) dilaporkan sedang menuju perairan Suriah setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menyerang rezim Damaskus.

Kementerian Pertahanan Rusia enggan mengomentari citra satelit Israel tersebut.

Sekadar diketahui, operator satelit iSi sebelumnya telah merilis foto-foto jet tempur generasi kelima terbaru Rusia, Su-57, yang diam-diam diuji coba di wilayah udara Suriah beberapa waktu lalu.

Belum jelas apakah beberapa kapal perang dan kapal selam Moskow itu wira-wiri untuk latihan atau memang patroli rutin.

Baca Juga :  Bertarung di Kejurnas 2018, Wushu Sumsel Targetkan Dua Emas

Perusahaan satelit tersebut mengklaim bahwa kapal-kapal Rusia sekarang disiagakan di perairan Suriah yang kemungkinan untuk mengantisipasi terjadinya serangan udara dari AS dan sekutunya terhadap rezim Suriah.

Operator iSi, seperti dikutip Sputnik, Kamis (12/4/2018), mengidentifikasi kapal-kapal yang terpantau satelit tersebut antara lain kapal perang Admiral Grigorovich, kapal Ropucha dan dua kapal selam Kilo-class. Ada juga beberapa kapal lain yang belum diidentifikasi.

Sementara itu, juru bicara Gedung Putih, Sarah Huckabee Sanders, telah mengumumkan bahwa Presiden AS Donald Trump mencatat Moskow dan Damaskus bertanggung jawab atas serangan senjata kimia di Kota Douma, Suriah, yang dilaporkan menewaskan hingga 70 orang.

Angkatan Laut AS juga mengumumkan bahwa kapal induk USS Harry S Truman dengan rombongan kapal perang seperti USS Normandy, USS Arleigh Burke, USS Bulkeley, USS Forrest Sherman dan USS Farragut, sedang dikirim ke Timur Tengah. Dua lagi kapal perusak, USS Jason Dunham dan USS The Sullivan, juga akan menyusul bergabung rombongan kapal penyerang tersebut.

Rusia dan Suriah telah menepis tuduhan bahwa rezim Presiden Bashar al-Assad melakukan serangan senjata kimia di Douma. Menurut Moskow serangan itu dibuat LSM White Helmets dan kelompok Jaish al-Islam yang didukung Barat dengan tujuan agar negara-negara Barat menyerang rezim Damaskus.

Berbeda dengan Presiden Trump yang telah mengumbar retorika serangan militer terhadap rezim Suriah, Pentagon masih menunggu laporan intelijen soal kebenaran tuduhan serangan kimia di Douma.

Organisasi Larangan Senjata Kimia (OPCW) juga sedang dalam perjalanan ke Douma untuk melakukan penyelidikan. (hyd)

Baca Juga

Ada Soal Porno di UN SMP, Disdik Sumsel Segera Investigasi

Palembang, sumselupdate.com – Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan segera melakukan koordinasi terkait dengan soal ujian …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *