Home / Headline / Para Terdakwa Kasus Suap Banyuasin Beberkan Penerima Dana
Yan Anton Usai menjalani persidangan.

Kasus Suap Banyuasin

Para Terdakwa Kasus Suap Banyuasin Beberkan Penerima Dana

Palembang, Sumselupdate.com – Para terdakwa dalam kasus dugaan suap proyek di Pemerintah Kabupaten Banyuasin membeberkan sejumlah penerima dana dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor Palembang, Kamis (2/3/2017).

Dalam persidangan dengan agenda pemeriksaan saksi sekaligus terdakwa ini, Sutaryo mengaku sudah ada kerja sama antara SKPD dengan Polda Sumsel, salah satunya Dinas Pendidikan Banyuasin.

Isi kerjasama yang tertuang secara lisan itu berbunyi bahwa jika ada laporan ke Polda Sumsel terkait kasus tindak pidana korupsi, maka pihak kepolisian harus mengeluarkan LHP agar laporan itu tidak dapat dilanjutkan.

“Di kesepakatan itu, proyek-proyek di Dinas Pendidikan sudah diperiksa Polda Sumsel dan hasilnya dinyatakan tidak ada indikasi tindak pidana korupsi atau clear,” terang Sutaryo, yang sebelumnya menjabat Kasi Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembangunan Dinas Pendidikan Banyuasin dalam persidangan.

Menurutnya, kerja sama tersebut sudah berjalan sejak 2013 dan sebagai imbalan, oknum kepolisian akan mendapat 1,5 persen dari 20 persen fee proyek yang berasal dari rekanan Dinas Pendidikan maupun dinas lainnya.

Baca Juga :  Akui Minta Uang Untuk Naik Haji, Yan Anton Minta Dituntut Ringan

“Sejak 2013-2015, setidaknya saya dan Kepala Dinas Pendidikan memberikan langsung uang 1,5 persen itu kepada pihak Polda Sumsel. Saat itu, diterima salah satu pejabat polisi di Ditreskrimsus Polda Sumsel,” imbuhnya.

Ia memaparkan, di 2013 Dinas Pendidikan menerima fee dari rekanan mencapai Rp8 miliar, 2014 Rp10 miliar dan 2015 sebesar Rp21 miliar. “Sepengetahuan saya selama itu, setidaknya uang yang diberikan untuk aparat hukum mencapai Rp4.560.000.000, di antaranya diberikan kepada Polda Sumsel dan Kejaksaan,” paparnya.

Sedangkan, terdakwa Yan Anton Ferdian membenarkan semua keterangan yang disampaikan Sutaryo.

“Benar, saya mengakui semuanya, saya menyesal atas hal itu. Saya mohon maaf kepada masyarakat karena telah membuat nama Kabupaten tercoreng dan membuat keluarga besar saya malu,” tutur Yan yang juga mengajukan Justice Collabarator (JC).

Terkait penyerahan uang kepada oknum di Polda Sumsel, Yan Anton mengatakan bahwa ia memang memberikan uang kepada sejumlah pejabat polisi di Polda Sumsel, di antaranya mantan Kapolda Sumsel Irjen Pol Djoko Prastowo yang menerima Rp100 juta dan diikuti sejumlah pejabat lain dengan nilai lebih kecil.

Baca Juga :  Pemberi Suap ke Yan Anton Dituntut 2 Tahun Penjara dan Denda Rp150 Juta

Yan Anton mengaku dua kali menemui Irjen Pol Djokoi. Pertama, itu atas usulan Sekda dan Asisten II membahas penangguhan penahan Mekri Bakri yang ditahan Polda.

“Saya temui dan tanyakan bagaimana Pak bisa tangguhkan penahanan Mekri. Namun, ia tidak menjawab iya atau tidak, hanya mengatakan bahwa dia butuh waktu untuk itu,” imbuhnya.

Satu minggu kemudian ia kembali menemui kapolda dan membawakan uang sebesar Rp100 juta.

“Beliau tidak menerima maupun menolak. Karena tanggapan kurang begitu berkenan, jadi saya katakan itu pinjaman saja. Lalu saya dan Rustami pulang,” tandasnya.

Menaggapi pengajuan JC dari Yan Anton, JPU KPK Roy Riyadi menuturkan jika JC yang diajukan sudah diterima. Namun, kemungkinan tidak bisa, karena terdakwa Yan Anton adalah tokoh utama dalam kasus tersebut.

“Tidak bisa, namun kami tetap terima dan akan melaporkan ke pimpinan, dikabulkan atau tidak JC itu lihat saja perkembangan selanjutnya,” kata dia. (tra)

Baca Juga

Polisi Belum Dapat Kronologi Utuh Briptu R Tembak Kader Gerindra

Jakarta, Sumselupdate.com – Polri mengaku belum mendapatkan kronologi yang pasti terkait perselisihan berujung maut antara …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *