Home / Headline / Menjadikan Sentra Perternakan Rakyat ‘Gula’ Untuk Menarik Minat Investor ke Sumsel
Kepala Dinas Peternakan Sumsel Dr Ir Amruzi Minha, MS

Wawancara Khusus dengan Kadisnak Sumsel Dr Ir Amruzi Minha, MS

Menjadikan Sentra Perternakan Rakyat ‘Gula’ Untuk Menarik Minat Investor ke Sumsel

Dinas Peternakan Sumatera Selatan (Sumsel) memiliki banyak program unggulan untuk mewujudkan swasembada daging maupun swasembada pangan dari hasil ternak. Di antara program itu adalah pengembangbiakan kerbau rawa, mendirikan rumah sakit, menjadi pilot project program nasional sentra pertenakan rakyat, hingga mendirikan rumah pemotongan hewan (RPH) modern.

Program-program unggulan tersebut, selain mewujudkan swasembada daging dan pangan, juga menyukseskan penyelenggaraan Asian Games 2018 mendatang, dengan cara menyediakan pasokan daging yang sehat untuk tamu-tamu asing, atlet, dan official.

Sejauh mana program tersebut sudah dijalankan? Bagaimana realisasinya di lapangan? dan apa manfaat dirasakan petani, peternak, dan masyarakat dari berbagai program tersebut. Berikut penjelasan lengkap Kepala Dinas Peternakan Sumsel Dr Ir Amruzi Minha, MS dalam wawancara khusus dengan Sumselupdate.com di ruang kerjanya, Selasa (11/4) lalu.

 

1.Assailammualakum, apa Kabar Pak Amruzi?

Waalaikum Salam. Kabar Baik.

2.Kita tahu sekarang ini Sumatera Selatan menjadi Pilot Project program nasional sentra peternakan rakyat. Sejauh mana program ini sudah dijalankan di Provinsi Sumsel?

SPR itu termasuk daerah yang lokasi pembidanan sentra peternakan rakyat. Pada waktu itu, Profesor Dr Mulatno menjadi konsultan Kementerian Pertanian. Asalnya dulu sekolah perternakan rakyat dan berkembang menjadi sentra peternakan rakyat. Program sentra peternakan rakyat ini, untuk tahap awal sudah berjalan di tiga kabupaten, yakni Banyuasin, Musi Banyuasin, dan Kabupaten OKI. Untuk Banyuasin dipusatkan di Kecamatan Betung, Musi Banyuasin di Sungai Lilin, dan OKI dipusatkan di Kecamatan Lempuing. Dalam program SPR menganut konsep 1,1,1 artinya dari seribu sapi,  terdapat 900 betina, 100 pejantan, dan satu pembina. Jadi dalam program sentra peternakan rakyat ini bukan penambahan sapi dari pemerintah, tetapi kita mengorganisir peternak sehingga terkumpulah seribu sapi dalam satu kawasan. Dalam satu kawasan sentra peternakan rakyat, pemerintah akan memberikan satu orang manajer atau pendampingan, kandang, dan pakan. Jadi di dalam sentra peternakan rakyat itu ada sekolah peternakan, karena di situ ada pendampingan dari perguruan tinggi, juga dari Dinas Peternakan. Tujuannya untuk memberikan pembinaan kepada peternak bagaimana mengurus ternak yang baik, sehingga ternak sehat, produktif, dan berkembang biak lebih banyak. Kalau program sentra peternakan rakyat ini berhasil, tentu akan menarik investor menginvestasikan uangnya. Jadi mungkin nanti ada pengusaha investasi 500 sapi, ada 100 sapi, atau juga ada yang nitip 20 sapi.  Jadi SPR (sentra peternakan rakyat –red) ini akan kita jadikan ‘gula’. Hal seperti ini sudah ada tanda-tandanya, buktinya beberapa provinsi di Pulau Jawa sudah melakukan studi banding ke Provinsi Sumsel. Bahkan sudah dilihat Bappenas dan lain sebagainya.

3.Bagaimana implementasi di lapangan dan sejauh mana manfaat sudah dirasakan peternak maupun petani khususnya di Sumsel dengan adanya program sentra peternakan rakyat?

Ya, mereka (peternak dan petani –red) merasa sudah mulai ada keteraturan. Kapan pakan ternaknya dipersiapkan, kapan ternaknya dilepas, kapan ternak kembali ke kandang, dan bagaimana kondisi kandang. Dan kita (Dinas Peternakan) sudah masuk tahap mengidentifikasi. Masing-masing ternak secara satu persatu sudah punya profil mengenai jenetiknya, kondisi kesehatannya, vaksinasinya. Dan selama ini peternak tidak pernah seperti ini, hanya natural aja beternak, kasih rumput, dan kalau lebaran dijual. Dan dijualnya pun sembarang dan semaunya dia. Dan kita juga sudah mengimbau peternak untuk tidak menjual betina produktif. Dan peternak sudah mulai, buktinya program SPR yang sudah jalan di Kabupaten Banyuasin, Muba, dan OKI dan tiga kabupaten yang baru menyusul Muaraenim, Lahat, dan OKU Selatan, juga begitu. Mereka rupanya kontak, sama pola pikirnya, di mana sudah ada keteraturan. Dulu kalau ngarit (cari rumput) masing-masing, sekarang sudah ada pergiliran untuk ngumpuli pakan ternak. Dan kita akan bantu alat olah pakan untuk penghancur pelepah sawit dan lain sebagainya.

4.Dinas Peternakan Sumsel memiliki program unggulan lain, yakni pengembangan biakan kerbau rawa. Kenapa kerbau rawa yang dipilih dari program ini, kenapa bukan ternak lain seperti kambing atau ternak lainnya?

Kerbau rawa ini plasma nutfah (sumber daya genetik). Dia (kerbau –red) asli Sumatera Selatan. Potensinya (jumlah kerbau) sangat besar. Bukan hanya di Kecamatan Rambutan, Banyuasin, namun juga di Pampangan, OKI lebih banyak lagi, dan di Ogan Ilir  juga banyak. Kita ingin pemerintah pusat dan daerah lain melihat Gubernur Sumsel  sangat serius menjalankan program kerbau rawa ini. Makanya kita sudah tentukan  program sentra kerbau rawa di Rambutan, karena di sana juga sudah banyak kerbau rawa.

5.Bisa Bapak jelasan sasaran dan manfaat dari program pengembang biakan kerbau rawa untuk peternak maupun masyarakat Sumsel?

Bagi peternak kita hanya bukan penghasil daging, tapi juga penghasil susu kerbau. Dari susu kerbau inilah menjadi mozarela bahan baku fizza dan lain sebagainya, dan susu kerbau rawa itu ‘kan sangat bagus. Itu sasaran kita, bukan hanya dagingnya, tetapi mozarelanya juga menjadi yang produktif. Jadi artinya dari segi susu juga bisa dikonsumsi masyarakat, dari segi mozarelanya bisa menjadi bahan untuk keju dan lain sebagainya.

6.Sumsel segera memiliki rumah sakit hewan. Bisa Bapak jelaskan sasaran dari pembangunan rumah sakit hewan

Rumah sakit hewan Sumsel sudah punya tepatnya di Km 6 belakang Rumah Sakit Ernaldi Bahar lama. Fisiknya sudah selesai, tinggal peralatan. Manfaatnya, makin maju perkotaan, makin maju pola pikir, makin maju sektor jasa. Secara khusus rumah sakit hewan ini adalah untuk menanggulangi kesehatan ternak yang ada di Sumatera Selatan. Dari sisi lain, aspek perkotaan, selama ini ‘kan parsial nih, para dokter hewan membuka klinik-klinik. Jadi dengan adanya rumah sakit hewan, kita akan buat satu sentra klinik bersama, karena di situ kita siapkan juga ruang untuk rawat inap. Dan semua sapi potong sebelum masuk RPH itu harus melalui rumah sakit hewan, jadi harus diperiksa dulu kesehatannya. Artinya ternak sehat dari dokter hewan sehingga layak masuk RPH.

7.Menyambut penyelenggaraan Asian Games 2018, Dinas Peternakan Sumsel yang Bapak pimpin berencana membangun Rumah Potong Hewan (RPH) modern di Kecamatan Gandus. Bagaimana korelasinya dari program pembangunan RPH modern dengan rencana penyelenggaraan pesta olahraga terbesar di Asia Tenggara ini?

RPH modern ini memang akan dibangun di Gandus, tetapi dananya masih menunggu dari APBN. Jadi gini… perhelatan besar Asian Games ini, salah satu kreterianya adalah harus memiliki RPH dan rumah sakit hewan, karena itu wajar. Bapak bisa bayangkan kalau para atlet, official, dan undangan yang datang ke Sumsel ini ketika mengonsumsi daging tidak sehat, apa yang terjadi. Makanya gubernur meminta hal ini menjadi prioritas tinggi untuk kita. Untuk itu sebelum penyenggaraan Asian Games pembangunan RPH modern ini sudah siap. Bahkan Bapak Gubernur minta jalan di Gandus minta diperlebar lagi sehingga mobilitasnya menuju ke RPH modern lebih lancar.

8.Dinas Peternakan Sumsel memiliki program memberikan kartu identitas hewan. Sebelum 2018 seluruh ternak di Provinsi Sumsel sudah memiliki kartu identitas ini. Apa manfaat dari program ini untuk peternak dan masyarakat Sumsel?

Bagi masyarakat dengan adanya kartu identitas hewan bisa diketahui sejarah hewan ini, penyakitnya, umurnya, kondisi kesehatannya, dan nama pemilik hewan ternak itu sendiri. Kalau semua ternak di Sumsel ini sudah punya kartu identitas, maka tindak pencurian hewan ternak bisa dilakukan pencegahan, karena setiap penjualan hewan ternak nanti persyaratannya harus ada kartu identitas, sehingga bisa diketahui identitas hewan dan pemilik dari hewan ternak itu. Selain itu, jika hewan ternak sudah memiliki kartu identitas, maka  hewan ternak itu diasuransikan. Dan di dalam program SPR (sentra peternakan rakyat) premi asuransi hewan ternak ini disubsidi dari dana APBN. Jadi itulah peranan pemerintah, tidak menambah ternak namun memfasilitasi peternak untuk lebih maju.  

9.Terima Kasih Pak Atas Waktunya. Semoga seluruh program Bapak dapat terwujud dan segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Sumsel.

Terima kasih sama-sama.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.