Home / Headline / MASIKA – ICMI Angkat Persoalan ‘Ilegal Drilling’ di MUBA

MASIKA – ICMI Angkat Persoalan ‘Ilegal Drilling’ di MUBA

Sekayu, Sumselupdate.com – Sebagai wujud kepeduliannya terhadap persoalan pengelolaan sumber daya alam, Majelis Sinergi Kalam Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (MASIKA – ICMI) menggelar Diskusi Publik bertema “Sumber Daya Alam dan Pembinaan Serta Penyadaran Masyarakat Atas Dampak Ilegal Taping dan Ilegal Drilling”.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Desa Babat Kecamatan Babat Toman Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) pada 29 Maret 2018 ini menghadirkan nara sumber Aiptu Dedi Hartono (Kanit Binmas Polsek Babat Toman), Candra, SH. (Ketua Karang Taruna Muba), Arlin MH (Kabid Pengawasan Dinas Lingkungan Hidup Muba), dan Muzakir, S.Ag (Tokoh masyarakat).

Pada diskusi yang diikuti 70 orang warga Desa Babat Toman tersebut Muzakir mengatakan bahwa isu lingkungan kini kian menjadi perhatian publik mengingat hal itu berkaitan dengan berbagai kepentingan umat manusia. Isu-isu kerusakan lingkungan seperti efek rumah kaca, lapisan ozon yang menipis, kenaikan suhu udara, dan mencairnya es di kutub merupakan dampak dari eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Menurut Muzakir, dengan adanya potensi yang begitu melimpah memang diakui dapat membantu memajukan perekonomian negara, tapi di sisi lain keadaan ini dapat membuat orang untuk mengeksploitasinya secara maksimal untuk kepentingan pribadi.

“Inilah yang kita takutkan, akan banyak pengusaha yang bergerak di sektor pengolahan lingkungan yang tidak mengindahkan prinsip pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.

Kabid Pengawasan Dinas Lingkungan Hidup Kabuapaten Muba Arlin, M.H mengatakan bahwa berbicara mengenai ilegal driling dan ilegal tapping sejatinya berkaitan dengan minyak mentah. Pada proses kegiatan tersebut akan menghasilkan tumpahan/ceceran minyak mentah dan lumpur limbah minyak kategori limbah B3 dikarenakan sifat dan kosentrasinya dapat membahayakan kesehatan, manusia dan lingkungan hidup.

Terkait limbah B3, lanjutnya, hal itu telah diatur dengan jelas dalam UU 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Limbah ini mengandung bahan berbahaya dan beracun yang dapat merusak dan membahayakan lingkungan, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain.

“Minyak mentah mengandung senyawa hidrokarbon yang memiliki komponen senyawa komplek seperti benzene, toluene dan isomer xylena yang berpengaruh besar terhadap pencemaran. Senyawa ini termasuk ke dalam jenis Limbah B3, merupakan pelarut yang tidak terhalogenasi”, ujar Arlin.

Lebih lanjut Arlin menuturkan, senyawa hidrokarbon ini bersifat karsinogenik yang sulit mengalami perombakan di alam, baik di air maupun di tanah, sehingga dapat menyebabkan kanker.

“Ilegal tapping dan illegal drilling merupakan kegiatan yang menghasilkan minyak mentah yang apabila terkena media lingkungan air, tanah dan udara dapat mencemarkan, merusak, dan membahayakan lingkungan hidup, kesehatan serta kelangsungan hidup manusia dan mahkluk hidup lain. Bahkan karakteristik limbah B3 dalam hal ini tumpahan minyak dan lumpur limbah B3 mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun dan bersifat karsinogenetik (menyebabkan kanker),” ujar Arlin mengingatkan.

Sementara Aiptu Dedi Hartono menegaskan bahwa secara yuridis illegal drilling adalah perbuatan dilarang karena ini termasuk pelanggaran. Namun secara sosialogis, kepolisian sampai saat ini masih   mentoleransi selama tidak berlebihan dan hanya sebatas untuk kepentingan mencari makan.

Untuk itu, masyarakat harus melihat juga sisi bahayanya khususnya dalam pemasakan minyak mentah karen jauh dari standarisasi.

“Dengan harganya yang tinggi, masyarakat mulai beralih menambang minyak hanya saja masyarakat terlalu obsesi sehingga terlalu bernafsu hingga menjual mobil, rumah demi mengebor sumur minyak tergiur dengan yang lain berhasil. Celakanya banyak juga yang gagal dan akhirnya tidak sedikit yang malah lebih menderita,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Chandra mengatakan bahwa pemuda sudah waktunya peduli pada lingkungan dan sumber daya alam. Karenanya, Karang Taruna jangan mengurusi olah raga saja, namun mesti perhatian dan peduli juga terhadap potensi potensi SDA dan SDM yang ada.

Dia tidak menampik bahwa dengan banyaknya masyarakat menambang minyak maka hal itu akan berdampak pada pengurangan angka pengangguran di Kabupaten Muba. Namun, dia pun mengingatkan ada banyak sumber daya alam yang bisa dikelola masyarakat. Misalnya, walaupun harga karet saat ini turun, namun bisa ditingkatkan dengan pengelolaan perkebunan yang lebih modern dan diterima masyarakat.

“Tahun ini juga karet bisa juga dijadikan aspal pengganti aspal curah. Artinya tidak semua harus ke minyak. Karena minyak itu modalnya besar, resikonya juga cukup besar”, ujar tokoh pemuda ini. (ril/shn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.