Home / Headline / Akui Karaoke, Tim Auditor BPK Sebut yang Bayar Jasa Marga

Akui Karaoke, Tim Auditor BPK Sebut yang Bayar Jasa Marga

Jakarta, Sumselupdate.com – Tim auditor BPK mengakui servis karaoke ketika melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) terhadap PT Jasa Marga Cabang Purbaleunyi. Salah seorang anggota tim mengaku tidak tahu siapa yang membiayai servis itu.

“Setelah makan malam, balik ke hotel. Waktu itu sih masih di depan resepsionis ngobrol-ngobrol. Lalu saya diajak Mas Iwan (salah seorang anggota tim BPK). Waktu itu, kalau nggak salah, Mas Iwan bilang ‘nyanyi’,” ujar PNS pemeriksa BPK, Imam Sutayah, saat bersaksi dalam sidang terdakwa Setia Budi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (11/1/2018), seperti dikutip dari detik.com.

Imam menyebut nama lokasi karaoke itu Havana. Dia mengaku berada di lokasi karaoke itu dari sekitar pukul 21.00 WIB hingga tengah malam.

Baca Juga :  2 Paket Shabu Benamkan Herry dengan Hukuman 10 Tahun Penjara

“Perkiraan jamnya yang pasti setelah makan malam, mungkin setelah jam 8-9. Kalau selesainya jam 12-an,” ucapnya.

“Siapa yang biayai?” tanya hakim.

“Kalau biaya, saya sendiri tidak tahu pasti yang menyelesaikan siapa,” jawab Imam.

“Siapa yang membiayai karaoke?” tanya hakim kepada saksi lainnya, yaitu Kurnia Setiawan Sutarto (PNS pemeriksa BPK).

“Sepengetahuan saya dari Jasa Marga, karena kalau kami nggak,” jawabnya.

Selain itu, saksi lainnya, Roy Steven (auditor BPK), mengakui adanya pembiayaan penginapan yang dilakukan oleh pihak Jasa Marga. Namun dia tidak menyebut siapa yang melakukan pembayaran.

“Untuk pembayaran Hotel Best Westin, yang pasti dari kami nggak melakukan pembayaran,” ujar Roy.

“Di Santika nggak?” tanya hakim lagi.

“Dari Jasa Marga,” jawabnya.

Kemudian terkait temuan kelebihan bayar tetapi hitungannya menyusut, Kurnia mengatakan belum ada bukti. Dia mengatakan nilai temuan Rp 12 miliar yang menyusut menjadi Rp 800 juta hanya bersumber dari cerita pihak Jasa Marga.

Baca Juga :  Nyambi Edarkan Shabu, Sopir Ditangkap Polisi

“Itu kan mestinya ada bukti-bukti, kami klarifikasi semua. Ada yang belum lengkap, ada yang seperti cerita tapi buktinya belum ada,” sebut Kurnia.

“Jadi di Purbaleunyi hanya cerita doang, terus diterima cerita-cerita jadi hitungannya berkurang?” tanya hakim.

“Ya, seperti itu,” jawabnya.

Kurnia mengaku pekerjaannya diburu waktu, sementara ketua tim auditor Sigit Yugoharto meminta agar temuan yang mirip digabungkan. Dari situlah angka kelebihan bayar itu berkurang.

“Nah, itu jadi ketua tim memerintahkan temuan mirip digabung, serupa makanya jadi 18,” sebutnya.

“Makanya nilainya berkurang?” tanya hakim.

“Khusus yang itu belum final,” jawab Kurnia. (adm3/dtc)

Baca Juga

UN SMP Dimulai, UNBK Masih Belum Maksimal

Palembang, Sumselupdate.com – Hari ini jenjang SMP secara serentak menjalani Ujian Nasional, termasuk di Palembang. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *